Pada TAHUN KESEPULUH KENABIAN , istri Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, Khadijah binti Khuwailid, dan pamannya, Abu Thlaib, wafat,
Siti Khadijah wafat dalam usia 65 tahun pada tanggal 10 Ramadhan tahun ke-10 kenabian, atau tiga tahun sebelum hijrah ke Madinah atau 619 Masehi. Ketika itu, usia Rasulullah sekitar 50 tahun. Beliau dimakamkan di dataran tinggi Mekkah, yang dikenal dengan sebutan al-Hajun/MA'LA.
Karena itu, peristiwa wafatnya Siti Khadijah sangat menusuk jiwa Rasulullah. Alangkah sedih dan pedihnya perasaan Rasulullah ketika itu. Karena dua orang yang dicintainya (Khadijah dan Abu Thalib) telah wafat, maka tahun itu disebut sebagai ‘Aamul Huzni (tahun kesedihan) dalam kehidupan Rasulullah.. Berkata Ibnu Sa’d dalam Thabaqat-nya: “Selisih waktu antara kematian Khadijah dan kematian Abu Thalib hanya satu bulan lima hari.”
Khadijah Radhiyallahu ‘Anhu sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hisyam adalah menteri kebenaran untuk Islam. Pada saat-saat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam menghadapi masalah-masalah berat, beliaulah yang selalu menghibur dan membesarkan hatinya. Akan halnya Abu Thalib, dia telah memberikan dukungan kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam menghadapi kaumnya.
Abu thalib wafat dalam usia 80 tahun
Berkata Ibnu Hisyam: Setelah Abu Thalib meninggal, kaum Quraisy bertambah leluasa melancarkan penyiksaan kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, sampai orang awam Quraisy pun berani melemparkan kotoran ke atas kepala Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sehingga pernah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam pulang ke rumah berlumuran tanah. Melihat ini, salah seorang putri beliau bangkit dan membersihkan kotoran dari atas kepalanya sambil menangis. Tetapi Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepadanya,”Janganlah engkau menangis wahai anakku, sesungguhnya Allah akan menolong bapakmu.”
- Kesedihan datang silih berganti
Dua peristiwa sedih tersebut berlangsung dalam waktu yang relatif berdekatan, sehingga perasaan sedih dan pilu menyayat-nyayat hati Rasulullah صلی الله عليه وسلم. Kemudian, cobaan demi cobaan terus datang secara beruntun pula dari kaumnya. Sepeninggal Abu Thâlib, nampaknya mereka semakin berani terhadap beliau, mereka dengan terang-terangan menyiksa dan menyakiti beliau. Lengkap sudah, kesedihan yang dialaminya halmana membuat beliau hampir putus asa untuk mendakwahi mereka. Karenanya, beliau pergi menuju kota Thâ-if dengan harapan penduduknya mau menerima dakwah beliau, melindungi dan menolong beliau melawan perlakuan kaumnya namun beliau sama sekali tidak melihat ada seroangpun yang mau melindungi dan menolong. Bahkan sebaliknya, mereka menyiksa dan memperlakukannya dengan yang lebih sadis dari apa yang dilakukan oleh kaumnya sendiri.
Siksaan yang begitu keras tidak saja dialami Nabi, tetapi para shahabatnyapun ikut mendapatkan jatah. Hal ini membuat teman akrab beliau, Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه berhijrah dari Mekkah. Manakala dia sudah mencapai suatu tempat yang bernama Bark al-Ghumâd dengan tujuan utama ke arah Habasyah, Ibnu ad-Daghinnahnya mengajaknya pulang dan memberinya suaka.
Ibnu Ishâq berkata: “ketika Abu Thâlib wafat, kaum Quraisy menyiksa Rasulullah صلی الله عليه وسلم dengan siksaan yang semasa hidupnya tidak berani mereka lakukan. Lebih dari itu, salah seorang begundal Quraisy menghalangi jalan beliau, lalu menaburi debu ke arah kepala beliau. Tatkala beliau masuk rumah dalam kondisi demikian, salah seorang anak perempuan beliau menyongsongnya dan membersihkan debu tersebut sembari menangis. Beliau berkata kepadanya: “jangan menangis duhai anakku! Sesungguhnya Allah lah Yang akan menolong ayahandamu”.
Ibnu Ishâq melanjutkan: “beliau صلی الله عليه وسلم selalu berkata bila mengingat hal itu: ‘Tidak pernah aku mendapatkan suatu perlakuan yang tidak aku sukai dari Quraisy hingga Abu Thâlib wafat’ ”.
Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam menamakan ini sebagai „tahun duka cita”, karena begitu berat dan hebatnya penderitaan di jalan dakwah pada tahun ini.Sehingga sebutan ini lebih dikenal di dalam buku-buku Sirah dan Tarikh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar